Dapatkan pemberitahuan artikel terbaru saya dengan cara Berlangganan!

Ketika Beton Menggantikan Pohon, Siapa yang Menanggung Panas Kota?

Panasnya kota bukan sekadar masalah cuaca, melainkan isu keadilan sosial. Bagaimana pembangunan yang mengorbankan pohon dan membebani kelompok rentan.
Jalan kota tropis dengan pepohonan dan bangunan perkotaan
Ilustrasi kota tropis, ruang hijau, dan tekanan panas perkotaan. Kredit gambar: https://blogs.worldbank.org/

Kota-kota di Indonesia terus tumbuh. Jalan diperlebar, bangunan komersial bermunculan, kawasan permukiman meluas, dan ruang-ruang kosong pelan-pelan berubah menjadi deretan beton. Dalam banyak pidato pembangunan, perubahan itu disebut sebagai tanda kemajuan. Namun, di balik wajah kota yang tampak semakin modern, ada satu gejala yang dirasakan warga hampir setiap hari yaitu kota menjadi semakin panas.

Panas itu bukan sekadar urusan cuaca. Ia adalah hasil dari pilihan pembangunan yang terlalu lama menempatkan pohon dan ruang hijau sebagai pelengkap, bukan kebutuhan utama. Ketika halaman berubah menjadi parkiran, taman menjadi bangunan, dan pepohonan ditebang demi pelebaran jalan, kota kehilangan pelindung alaminya. Beton, aspal, atap seng, dan kaca memerangkap panas lebih lama. Udara terasa lebih sesak. Ruang luar menjadi kurang ramah. Dan perlahan-lahan, kota yang seharusnya menjadi ruang hidup bersama berubah menjadi ruang yang menguras kenyamanan.

Panas kota bukan hanya isu lingkungan. Ia adalah isu keadilan sosial.

Masalahnya, panas kota tidak ditanggung secara adil. Mereka yang memiliki rumah besar, kendaraan pribadi, dan pendingin udara mungkin masih bisa mengurangi dampaknya. Tetapi bagi warga yang tinggal di permukiman padat, pekerja lapangan, pengemudi ojek, pedagang kecil, buruh bangunan, lansia, dan anak-anak, panas kota adalah kenyataan yang harus dihadapi tanpa banyak pilihan. Mereka berjalan, bekerja, berdagang, dan menunggu angkutan di ruang-ruang yang minim naungan.

Mereka hidup lebih dekat dengan aspal panas daripada dengan pepohonan. Mereka yang paling sedikit menikmati manfaat pembangunan justru menjadi pihak yang paling berat menanggung dampaknya. Karena itu, ketika kita berbicara tentang suhu kota, sesungguhnya kita sedang membicarakan siapa yang dilindungi oleh tata ruang, dan siapa yang dibiarkan menanggung konsekuensinya.

Peta thermal atau urban heat island pada wilayah kota
Visualisasi urban heat island menunjukkan kawasan terbangun cenderung lebih panas dibanding area yang masih memiliki vegetasi. Kredit gambar: NASA

Ketika Pohon Dipandang Sebagai Pelengkap

Sering kali kita membicarakan pembangunan kota hanya dari ukuran fisik berapa kilometer jalan dibangun, berapa gedung berdiri, berapa kawasan tumbuh menjadi pusat ekonomi baru. Ukuran-ukuran itu penting, tetapi tidak cukup. Kota yang baik bukan hanya kota yang bergerak cepat, melainkan kota yang tetap layak dihuni. Kota yang tidak membuat warganya kelelahan hanya untuk berjalan beberapa ratus meter. Kota yang tidak memaksa anak-anak belajar di ruang panas tanpa pohon. Kota yang tidak membiarkan kelompok rentan menanggung suhu yang makin tinggi hanya karena tata ruang lebih berpihak pada kendaraan dan bangunan daripada pada manusia.

Sayangnya, dalam praktik perencanaan kita, pohon masih terlalu mudah dikorbankan. Ia ditebang karena dianggap mengganggu proyek. Akar dinilai merusak trotoar. Kanopi dianggap menutup papan reklame. Ruang hijau sering dilihat sebagai lahan cadangan yang suatu hari bisa dimanfaatkan untuk fungsi yang dianggap lebih produktif. Cara pandang seperti ini harus dikoreksi. Pohon bukan dekorasi kota. Ia adalah infrastruktur ekologis yang menopang kenyamanan termal, kualitas udara, penyerapan air, dan kesehatan warga.

Kota yang Teduh Adalah Kota yang Adil

Kita perlu berhenti memandang ruang hijau sebagai kemewahan. Di kota tropis seperti Indonesia, ruang hijau adalah kebutuhan dasar. Ia sama pentingnya dengan drainase, jalan, dan penerangan. Bahkan dalam banyak kasus, manfaatnya jauh lebih luas karena langsung menyentuh kualitas hidup sehari-hari. Kota yang teduh bukan sekadar kota yang indah dipandang, melainkan kota yang memberi kesempatan bagi warganya untuk hidup lebih sehat, lebih aman, dan lebih manusiawi.

Tentu, tidak ada yang menolak pembangunan. Kota memang harus tumbuh. Ekonomi harus bergerak. Infrastruktur perlu diperluas. Tetapi pertumbuhan tanpa pertimbangan ekologis hanya akan memindahkan beban ke tubuh warga. Hari ini beban itu muncul sebagai panas yang melelahkan. Besok ia hadir sebagai biaya kesehatan, turunnya produktivitas, meningkatnya konsumsi energi, dan makin lebarnya ketimpangan kualitas hidup antarkawasan kota.

Jalan kota yang teduh dengan pohon rindang
Jalan yang teduh bukan hanya estetika, tetapi bagian dari perlindungan sosial dan ekologis di perkotaan. Kredit gambar: Freepik

Karena itu, agenda kota ke depan tidak boleh lagi berhenti pada membangun lebih banyak, melainkan harus berani bertanya membangun untuk siapa, dan dengan konsekuensi apa?. Setiap proyek perkotaan seharusnya menimbang dampaknya terhadap suhu, kenyamanan pejalan kaki, dan keberadaan ruang teduh. Setiap pemerintah daerah seharusnya memiliki keberanian untuk melindungi pohon-pohon tua, memperluas koridor hijau, dan memastikan bahwa kawasan padat penduduk tidak menjadi kantong-kantong panas yang diabaikan.

Pada akhirnya, panas kota adalah cermin dari pilihan peradaban. Jika beton terus lebih dihargai daripada pohon, jika ruang hijau terus dipersempit, dan jika kenyamanan warga selalu dikalahkan oleh logika pembangunan jangka pendek, maka panas kota akan terus naik, dan yang paling menderita tetap mereka yang paling lemah.

Pertanyaan “siapa yang menanggung panas kota?” seharusnya membuat kita berhenti sejenak. Sebab jawabannya bukan abstrak. Ia ada di trotoar tanpa naungan, di rumah-rumah sempit yang pengap, di pasar yang gerah, di sekolah yang halaman hijaunya hilang, dan di tubuh warga biasa yang setiap hari dipaksa beradaptasi dengan kota yang semakin keras. Bila kota ingin benar-benar disebut maju, maka ukurannya bukan hanya tinggi gedungnya, tetapi juga seberapa teduh ia bagi warganya.

14 komentar

  1. Perkembangan kota memang sering diiringi dengan berkurangnya ruang hijau, padahal keberadaan pohon memiliki peran yang sangat penting bagi kualitas hidup masyarakat. Kadang dampaknya tidak langsung terasa, tetapi perlahan muncul dalam bentuk suhu yang semakin panas, banjir, atau kualitas udara yang menurun. Semoga pembangunan ke depan bisa lebih seimbang sehingga kebutuhan manusia dan kelestarian lingkungan dapat berjalan berdampingan.
  2. Sama pohon-pohon yang dianggap mengganggu sinyal. Aku pernah berencana mau pasang WI-Fi dari salah satu perusahaan telekomunikasi gitu. Kebetulan ada pohon di sekitar rumahku. Mereka minta ditebang karena mengganggu sinyal katany. Hmm...
    1. Sebenarnya ada studinya bu mengenai hal tersebut dan benar pohon bisa mengganggu kekuatan sinyal. Kalau di riset-riset biasanya disebut vegetation attenuation. Untuk mengatasi hal tersebut agar tidak menebang pohon bisa ditinggikan pemancarnya atau gak cari bagian yang tidak tertutup pohon.
  3. Setuju, Bah. Kadang pembangunan emang perlu, tapi kalau sampai mengabaikan keseimbangan alam ya malah jadi bumerang buat kita sendiri. Makasih sudah diangkat topiknya, jadi refleksi banget buat kita semua.
  4. musim panas makin terasa panas karena kekurangan pohon di kota :( sedih
  5. Kota dengan lahan hijau di zaman ini semakin sedikit, terutama di jakarta dan skeitanya. Hampur bisa terhitung jari deh. Kalau bukan taman kota, ya lingkungan yang dianggap seram. Padahal banyak pohon bukan cuma penting untuk alam, tapi juga menguntungkan manusia.
  6. Bukan hanya di kota sih sekarang, pembangunan di pusat itu merembet juga panasnya ke daerah. Saat pulang kampung, 10 taun lalu, 5 taun lalu, sekarang itu beda banget sekarang. Jarang-jarang dingin kalo pulkam. Air juga tidak dingin lagi
  7. Memang miris melihat banyak beton yang berdiri tapi pepohonan tak lagi hijau terlihat. Susah sih ya kalau sudah keserakahan yang ada dalam diri
  8. Kritik sosial yang jleb banget, Mas Feri. Pembangunan yang kebablasan seringkali mengorbankan ruang hijau, padahal kalau udara udah makin panas dan banjir datang, kita semua yang rugi.
  9. Kemarin pas ke TIM ada pameran fotografi yang temanya bagus banget "Frames of Resilience" yang sebenernya bagian dari acara besar "Jakarta Future Festival 2026"
    Di sana, tampak banyak sekali aktivitas manusia bersama beton di Jakarta (dan kota-kota besar lainnya).

    Memang tidak seharusnya alam dipisahkan dengan manusia. Bukan sekedar untuk masa kini, tapi keberlangsungan bumi untuk masa depan.
  10. Betul banget, perkembangan bangunan-bangunan beton serta banyaknya alih fungsi lahan hijau dan ketidak seimbangan tata kota memunculkan dampak lingkungan yang kurang bersahabat, juga berpengaruh pada suhu iklim di suatu kawasan. Sudah semestinya ada solusi yg lebih balance antara pemberdayaan lingkungan hijau dan kemajuan infrastrukstur
  11. Yang masih aku heran sampai saat ini adalah sebenarnya setiap kota punya aturan berapa persen ruang terbuka hijau yang mesti ada, tapi kenapa belum mencapai titik minimal itu. Kota semakian padat memang pembangunan nggak terelakkan ya, tapi mesti diimbangin juga sama lahan untuk pohon terus tumbuh...
  12. memang tidak bisa dipungkiri seiring dengan semakin pesatnya pembangunan sebuah daerah, maka ada yang harus dikorbankan salah satunya adalah pepohonan ini. makanya nggak heran kalau sekarang kondisi kota juga jadi gersang karena pohon-pohon pelindungnya sudah pada hilang ditebang untuk proyek pembangunan
  13. Kalau mau maju, kota memang harus banyak pembangunan. Sayangnya, lebih banyak beton, gak nyisain ruang untuk pohon. Jadinya begitu, panas. Masalah lingkungan di mana-mana. Kudu beneran ada kerja sama dari semua orang kalau mau bumi adem